Kamis, 25 April 2013

MERENUNG



Apakah tataran konsep dapat membawa perubahan?

Menurut Rm. Riana Prapdi, Pr, Vikjen KAS (sekarang telah menjadi uskup), “Hampir 85% organisasi/lembaga tidak berhasil menjalankan programnya dengan sempurna. Ketidakberhasilan itu terletak pada aplikasi, monitoring dan evaluasi”. Ungkapan Romo Vikjen ini menggugah eksistensi saya sebagai seorang pemimpin (public figure). Bertahun-tahun saya mengeksplorasi berbagai disiplin ilmu, bahkan karena banyaknya ilmu sampai otaku yang kecil dan terbatas ini tak mampu menampung, demi melegitimasikan diriku sebagai seorang pemimpin yang professional. Saya bangga dan penuh percaya diri bahwa dengan segudang ilmu ini saya akan mampu merubah sesuatu menjadi baik, sesuai dengan versiku. Ternyata situasi dan medan laga yang saya hadapi, mengajak saya untuk pulang merefleksikan kembali tataran konsep-konsep yang sudah terpatri di otakku. Saya hanya sebatas pribadi pengkonsep, pribadi yang penuh dengan ide dan gagasan. Saya seperti plato kecil yang mengarakan pandanganku terus ke atas, tanpa menukik dan meluaskan pandanganku ke bawa. Saya hanya sebatas sabda yang belum teringkardinasi menjadi daging.
Kembali kepada judul refleksi, “Apakah Tataran Konsep Membawa Perubahan”. Konsep sebagai konsep dalam dirinya sendiri tidak akan membawa perubahan apapun. Perubahan itu  terjadi apabila diejawantakan dengan SIKONDOM, tetapi lebih dari itu, SikonTolpanJang (Situasi Kondisi toleransi pandangan dan Jangkauan) Menurut saya belajar dari pengalaman real yang menyentu hal-hal konkret inilah yang sangat mungkin membawa sebuah perubahan. Oleh karena itu, Program BULPAS seharunya bisa menjawabi pencarian saya akan pengalaman, bukan menjejali saya dengan berbagai teori. Berbicara atau berteori mengenai: Tantangan Pastoral Gereja Indonesia, Pluralitas Budaya dan Agama, Lingkungan Hidup, Gender, Komunitas Umat Beriman dan Pelayan Pastoral, Sejarah Imamat; adalah hal biasa. seharusnya hal-hal teroretis itu sekarang waktunya kita aplikasikan dalam pengalaman kongkret selama sebualan ini. Mungkin ini akan lebih baik dan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Saya menyadari bawa bahan yang saya terima selama dua minggu ini menyeggarkan saya kembali akan teori-teori, tetapi belum sampai pada tataran konkret.
Tanggapan: menjadi pergulatan kita bersama